RSS Feed

Hukum Newton


Ada yang tau dengan kedua “coretan” di atas? Jika Anda pernah belajar fisika, seharusnya paham bahwa itu adalah rumus dari Hukum Newton. Ada tiga buah hukum Newton, namun yg akan Kita bahas hanya dua rumus di atas.

Lex I: Corpus omne perseverare in statu suo quiescendi vel movendi uniformiter in directum, nisi quatenus a viribus impressis cogitur statum illum mutare.
Lex II: Mutationem motus proportionalem esse vi motrici impressae, et fieri secundum lineam rectam qua vis illa imprimitur.

Kalo diterjemahin ke bahasa Indonesia,

Hukum I: Setiap benda akan mempertahankan keadaan diam atau bergerak lurus beraturan, kecuali ada gaya yang bekerja untuk mengubahnya.
Hukum II: Perubahan dari gerak selalu berbanding lurus terhadap gaya yang dihasilkan / bekerja, dan memiliki arah yang sama dengan garis normal dari titik singgung gaya dan benda.

Sekarang, kita coba bahas satu-persatu. Hukum pertama, di buku-buku pelajaran sering disebut dengan istilah “Hukum Kelembaman.” Apa itu lembam? Lembam itu adalah kondisi ketika habis dipukulin (itu lebam)😀

Dulu, guru fisika SMA saya pernah mendefinisikan “Lembam” itu dengan kata “Malas.” Lho kok? Ya gitu..
Lembam itu adalah kondisi suatu benda/objek/orang yang mempertahankan kondisinya semula. Kalo lagi diam, ya dia akan tetap diam. Kalo lagi bergerak (dg kecepatan tertentu) maka ia pun akan mempertahankan geraknya dengan kecepatan yg sama. Ini yg disebut oleh guru saya sebagai “Malas.” Malas berubah posisi, malas berubah keadaan, malas berubah dari kondisi semula, pokoknya tetap seperti apa adanya. Nah, sesuai hukum Newton I, benda yg mempertahankan posisinya, tidak memerlukan gaya apapun alias nol. Artinya, jika kita dalam keadaan diam, ingin tetap diam, maka gaya yg dibutuhkan adalah nol. Begitu juga jika kita sedang bergerak (dengan kecepatan tertentu), maka untuk mempertahankan kecepatan tersebut kita tidak membutuhkan gaya tambahan dari luar, alias nol.

Bagaimana jika ada perubahan gerak? Inilah yang dijawab oleh hukum kedua Newton. Sebenarnya, hukum kedua Newton ini menjelaskan tentang pengaruh gaya terhadap perubahan massa dan/atau kecepatan (perubahan kecepatan = percepatan). Misalkan, jika kita sebelumnya diam lalu ingin berlari, maka gaya yg kita butuhkan adalah sebesar massa kita dikali percepatan. Artinya, makin gendut kita maka gaya yg dibutuhkan makin besar. Makin besar percepatan, makin besar gaya yang dibutuhkan. Begitu pula sebaliknya, jika kita ingin berhenti dari berlari, gaya yang dibutuhkan juga sebesar percepatan yg dilakukan. Inti dari hukum kedua Newton ini adalah menerangkan bahwa gaya yang diperlukan adalah sebesar perubahan yang dilakukan. Perubahan itu bisa dari massa, juga bisa perubahan kecepatan.

***

Beberapa waktu yg lalu, saya mendaki gunung Lawu di perbatasan Jateng-Jatim bersama 14 orang teman lainnya. Saya menceritakan konsep hukum newton seperti di atas dan dikaitkan dg kegiatan pendakian kami. Yang namanya naik gunung, capek itu wajar. Letih, penat, lelah, itu ga aneh kok. Hanya saja, waktu itu kami terlalu sering istirahat selama perjalanan. Baru 10 menit berjalan, tiba-tiba langsung duduk. Setelah itu, kembali jalan, tidak lama kemudian duduk lagi. Begitu seterusnya. Bayangkan, untuk duduk-berdiri-jalan-duduk lagi itu membutuhkan gaya yg tidak sedikit. Belum lagi yg namanya naik gunung, pastilah di punggung itu ada beban dari tas carrier kira-kira 10 kg. Jadi makin capek kan kalo gitu? Makanya waktu itu saya bilang sama temen-temen, “Daripada dikit-dikit duduk, mending kita jalan terus, pelan-pelan asal konstan..” Sesuai hukum Newton kan?? kalo ga percaya, buktiin aja sendiri..😛

Trus? yaudah. Gitu aja..
Sebenarnya “Konsep” hukum Newton di atas berlaku untuk hal yang lebih penting lagi bagi kita selaku umat manusia. Loh loh, Ciyus?? Enelan?? Miapah?? -__-

Analogi hukum Newton bagi saya juga berlaku dalam konsep keimanan kita. Kok bisa?
Begini, ingat lagi hukum Newton I di atas : “Setiap objek akan mempertahankan kondisinya semula.” Nah, objek disini adalah kita. Kondisi semula, adalah kondisi kita. Bayangkan jika kondisi kita semula adalah kondisi penuh lumuran dosa, terbiasa maksiat, hobi lalai, suka berbuat salah, dll. Sesuai hukum Newton pertama, kita akan mempertahankan kondisi tersebut, karena memerlukan gaya sebesar nol. Maka, bersyukurlah jika “kondisi semula” kita adalah kondisi yg penuh ketaatan dan hobi beramal soleh.

Lanjut ke hukum Newton kedua, “Gaya yang diperlukan adalah sebesar perubahan yang terjadi.” Innalillahii..Ini yg parah. Logikanya, kalo “kondisi semula” kita adalah penuh dosa dan hobi maksiat, maka untuk melakukan “perubahan” akan membutuhkan “Gaya” yg besar. Jelas, karena “massa” juga berubah. Pun sebaliknya, jika terbiasa taat dan beriman, untuk keluar dari kondisi tersebut akan terasa susah.

Jadi, wajar jika dalam kondisi yg real kita menemukan orang-orang (termasuk kita) yang susah untuk berubah. Orang yg terbiasa lalai, maksiat, dan dosa, akan sangat susah untuk meninggalkan hal-hal yg mereka sudah terbiasa. Kalo kejadiannya seperti ini, tugas kita memang hanya satu : “Mengupayakan resultan gaya sebesar mungkin” agar bisa berubah dari kondisi semula yg penuh dosa dan maksiat. Sebaliknya, bagi yg sudah terbiasa dalam ketaatan dan kebaikan, tugasnya pun hanya satu : “Mempertahankan kondisi semula.”

Maka, benarlah seorang ulama yang mengatakan :

Iman itu bertambah dan berkurang; bertambah dengan ketaatan, berkurang dengan kemaksiatan.

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: