RSS Feed

Teori Relativitas

Kali ini, kita tidak sedang membahas tentang teori relativitas Einstein yang terkenal dengan rumus E = mc2. Kita tahu, Einstein dalam postulatnya mengatakan bahwa :

Prinsip relativitas (postulat pertama): Hukum-hukum fisika adalah sama untuk setiap kerangka acuan

Prinsip kekonstanan kecepatan cahaya (postulat kedua): Cahaya dapat merambat dalam vakum (misalnya, ruang vakum, atau “ruang bebas”), kecepatan cahaya dinotasikan dengan c, yang konstan terhadap gerak benda yang meiliki radiasi.

Dari postulat di atas, jelas bahwa Einstein menerangkan bahwa teori relativitasnya “hanya” berlaku pada hukum-hukum fisika. Sekarang, ada sebuah “teori relativitas” lainnya yang tidak terbatas hanya pada hukum-hukum fisika. Teori tersebut berbunyi

All is Relative (Semua adalah relatif)

Ketika berbicara tentang “All” atau “Segala” atau “Semua” maka mau tidak mau, suka tidak suka, apapun itu harus termasuk di dalamnya. Sekilas, teori ini memang baik adanya. Indah atau jelek, memang relatif. Bagus ataupun tidak, juga relatif. Berat atau ringan, itu relatif. Panjang atau pendek, relatif. Teori ini dalam contoh tersebut memang benar, bahwa setiap orang memiliki penilaian sendiri alias relatif. Namun, perlu diingat bahwa yang kita bicarakan disini adalah “All” atau “Semua.”

Dari sinilah munculnya paradoks tersebut. Dalam banyak hal, memang penilaian manusia itu berbeda-beda, namun tidak bisa begitu saja mengambil kesimpulan bahwa “Semua” itu relatif. Salah satu resikonya jika mengikuti teori ini adalah, relatif itu juga berlaku dalam hal baik atau buruk. Dalam sosiologi ada bahasan tentang nilai & norma. Bahas tersebut mencakup sesuatu yang “baik” dan “buruk.” Baik & buruk tentu tidak bisa disebut relatif. Apakah korupsi itu tindakan yang baik atau buruk? mau bilang relatif?

Lebih jauh lagi, teori ini ternyata hanya menghasilkan semakin banyak paradoks dan kontradiksi. Betapa tidak, jika dalam suatu masyarakat teori ini dianut dan diamalkan, maka sopan santun akan hilang dari masyarakat. Mengapa? karena sopan atau tidak itu relatif. Begitu juga dengan hal berbau porno. Seseorang yang telanjang di depan umum tidak bisa dikatakan pornoaksi, sebab porno itu relatif. Nah lho..

Puncak dari ke-absurd-an teori ini adalah dalam menentukan kebenaran. Sesuatu itu benar atau salah, tidak bisa relatif. Menentukan benar atau salah ibarat kita membedakan hitam atau putih. Mustahil ada yang mengatakan putih itu merah, biru, hijau, apalagi hitam!

Pengembangan selanjutnya dari teori ini adalah “Silahkan bicara kebenaran, tapi jangan merasa benar.” Lagi-lagi, karena kebenaran itu relatif. Dalam ungkapan yang berbeda, “Benar menurut Anda belum tentu benar menurut Saya.” Akibatnya, “Jangan menegur kesalahan.” Sebagai kesimpulannya, “Semua dianggap benar dan harus dihormati!” Teori “Semua adalah relatif” kemudian diarahkan menjadi sebuah kesimpulan “Tidak ada kebenaran mutlak.” Apakah ini paham atheisme? bisa jadi. Yang jelas kebenaran, moralitas, nilai, norma, dan lainnya dianggap suatu yang relatif belaka.

Teori ini kemudian menampakkan ke-tidak logis-annya sendiri. Orang yang berkata “Tidak ada kebenaran mutlak” sejatinya telah mengatakan bahwa dirinyalah yang benar. Ini jelas bertentangan dengan kalimatnya sendiri. Orang yang mengatakan “Semua adalah relatif” maka sesungguhnya kalimat tersebut juga relatif. Ambigu!

Teori relativitas Einstein memang sudah diakui dunia dan terbukti merupakan revolusi besar terhadap ilmu fisika. Namun, teori “Semua itu relatif” menurut saya hanya akan menjadi sebuah paham relativisme yang berasal dari kebencian kaum atheis. Maka, paham ini bisa jadi merupakan ancaman baru bagi keberlangsungan umat beragama.

Parahnya lagi, banyak cendekiawan Muslim yang mencoba mengadopsi teori ini ke dalam pemahaman Islam. Dengan mudahnya mereka berkata “Islam bukan satu-satunya agama yang benar.” Seolah mereka adalah pemegang kunci surga, lalu membukakan pintu surga selebar-lebarnya untuk semua orang. Padahal dalam Al-Quran disebutkan :

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran : 19)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran : 85)

Lebih jauh, pengusung relativisme mengacak-acak ajaran Islam dengan berkata “Jangan merasa benar sendiri. Jangan menyalahkan orang lain, karena benar salah itu relatif.” Padahal Rasulullah mengatakan :

“Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, jika kamu tidak mampu maka cegahlah dengan lisanmu dan jika kamu tidak mampu juga maka cegahlah dengan hati.” (HR. Muslim)

Apakah mereka hendak membantah perkataan Rasulullah? atau mereka hendak mengabaikan perintah amar ma’ruf nahi munkar? hanya Allah dan mereka yang tahu.

Kemudian, ada lagi yang terkesan agak Islami. Katanya, “Semua adalah relatif,” dalilnya adalah “Yang benar hanya Allah.” Lebih jauh mereka mengatakan, “Yang berhak menentukan benar atau salah, bahkan sesat atau tidak hanya Allah. Ulama, apalagi kita hanya manusia, relatif.” Pernyataan ini kerap membuat kita terdiam, seolah mereka lebih hebat dari ulama (yang mereka katakan relatif) dan seolah merekalah orang yang paling dekat dengan Allah. Argumentasi mereka sebenarnya berdasar pada “Semua dihasilkan dalam ruang dan waktu manusia yang menyejarah.”

Padahal, jika kita cermati lebih jauh, Allah sudah berfirman :

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu” (Al Baqarah : 147)

Allah mengatakan “Al haqq min rabbikum” (Kebenaran dari Tuhanmu) bukan “Al haqq ‘inda rabbikum” (Kebenaran pada Tuhanmu). Ini artinya, kebenaran itu berasal dari sana dan sudah berada di sini di masa kini dalam ruang dan waktu kehidupan manusia. Yang manusiawi dan menyejarah sebenarnya bisa mutlak!

Para pengusung relativisme sering berdalih bahwa mereka sebenarnya menginginkan terciptanya kerukunan antar umat beragama. Bagi mereka, dengan mengatakan “Kebenaran agama itu relatif” maka permasalahan bisa selesai. Tidak ada lagi klaim masing-masing agama merasa paling benar, yang lainnya salah. Maka, tidak ada lagi peperangan antar umat beragama. Padahal, semua ini hanya angan-angan kosong belaka. Dalam Islam, sudah ada aturan

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)” (Al Baqarah : 256)

Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku” (Al Kafirun : 6)

Ini merupakan konsep yang sudah final dalam Islam. Yang diperlukan untuk menciptakan kerukunan umat beragama hanyalah toleransi dan sikap saling menghargai, bukan dengan cara me-relatif-kan kebenaran agama, apalagi sampai mengatakan semua agama sama benarnya. Jadi jelas, justru para pengusung relativisme itulah yang sudah mencederai kerukunan umat beragama dengan mengaburkan konsep kebenaran yang hakiki.

Sebenarnya, apapun argumentasi dan dalih para penganut paham relativisme, bisa dipatahkan dengan satu pertanyaan saja.
“Anda manusia atau binatang?”

——————————————————————————————————————
*tulisan ini terinspirasi dari MISYKAT karya Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi (Peneliti INSISTS)

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

4 responses »

  1. antara sains dan islam..

    Reply
    • komentarnya menarik :
      “antara sains dan islam..”

      pertanyaannya, apakah sains dan islam sesuatu yg bertentangan??
      ataukah justru saling berhubungan??
      lalu bagaimana dg di barat sana, mengapa saintis identik dg ateis??

      *menarik utk dikaji lebih jauh*

      btw, salam kenal..🙂
      monggo diisi guestbooknya..
      saya masih newbie di dunia blog..😀

      Reply
  2. Bagus banget tulisan agan, kita harus bisa membedakan antara relativitas dan relativisme. Keduanya sama sekali tidak terkait

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: