RSS Feed

Asywak

Samiroh berkata, “Maafkan aku bila harus mengatakan yang sebenarnya. Aku sangat mempercayaimu dan merasakan kadar cintamu begitu tinggi. Andai kau bedah hatiku, niscaya kau akan menemukan perasaan yang sama padamu. Namun, di hatiku ada duri-duri. Tanganmu akan kuletakkan di sana dan kuserahkan duri itu kepadamu dan menunggu sikap yang akan kau ambil.”

“Katakanlah semuanya, jangan khawatir!”

“Aku memang telah bertekad untuk mengatakan masa laluku, bersama orang lain.”

Kutipan di atas adalah cuplikan dari novel “Asywak” karya Sayyid Qutb, seorang ulama Mesir yg terkenal. Asywak, atau -yg diterbitkan oleh penerbit Nuun dalam bahasa Indonesia- Ijtihad Cinta menggambarkan kisah cinta sepasang muda-mudi yang hidup di Mesir.

Novel ini menjadi salah satu novel favorit saya. Terhitung cukup sulit mendapatkan bukunya, mengingat buku ini sudah tidak dijual lagi di toko-toko buku. Ga tau deh kenapa..😀

Hal yg paling menarik bagi saya dalam novel ini adalah kepiawaian Sayyid Qutb dalam menggambarkan suasana cerita. Sekilas mungkin, mendengar nama novelisnya “Sayyid Qutb” bisa jadi pembaca membayangkan ini kisah cinta ikhwan-akhwat pake jalur proposal, lewat murobbi, ga ada cerita khalwat, proses ta’aruf, khitbah, dsb. Dijamin, hal-hal kayak gitu ga bakal ketemu deh di novel ini!

Justru menariknya disini. Sayyid Qutb menggambarkan cerita ketika si pemuda selesai meminang seorang wanita bernama Samiroh. Bahasanya, mereka sudah bertunangan. Nah, apa yg diceritakan sepanjang novel -dan menjadi konflik- adalah “masa lalu” si wanita (Samiroh). Lebih gila lagi -menurut saya- adalah karakter si pemuda yg dibangun melalui kata-katanya Sayyid Qutb.

Sami, nama si pemuda ini, adalah seorang lelaki yang mendambakan seorang pendamping yang “Perawan.” Namun, berbicara tentang “Keperawanan” oleh Sayyid Qutb tidak hanya soal fisik. Memang, dalam alur novel juga disebutkan bahwa si pemuda menginginkan pendamping yang bahkan belum bersentuhan tangan dengan lelaki lain. Tapi bagian yang paling #jlebb bagi saya adalah ketika si pemuda digambarkan menginginkan seorang wanita yg “Hatinya masih perawan!”

Oke, #Jlebb moment dimulai..
Seorang wanita yg sudah melakukan hubungan badan dg lelaki lain, jelas sudah tidak perawan lagi. Seorang wanita yg sudah bersentuhan tangan dengan lelaki lain, maka tangannya sudah tidak “perawan.” Daaaan, Seorang wanita yg hatinya sudah dimasuki laki-laki yg bukan mahramnya, maka saat itu hatinya sudah tidak “perawan” lagi.. Wanita seperti inilah yang diinginkan si pemuda dalam novel Sayyid Qutb ini. Benar-benar penggambaran karakter yg luar biasa! *sumpah, pengen nangis* T_T

Karakter si pemuda semakin kuat terasa pada penggalan yg ini :

“Kau mau membantu kami? Bagaimana caranya?” tanya Samiroh heran

“Kau akan menjadi miliknya,” jawab lelaki itu meyakinkan.

“Kau mau korbankan semua cintamu padaku, semua masa lalumu bersamaku, dan seluruh jerih payahmu karenaku?”

“Ya, Aku akan korbankan semuanya dan Aku selalu siap memberikan pengorbanan-pengorbanan lainnya di kemudian hari. Aku korbankan hal itu, meskipun aku sadar bahwa itu berarti aku telah mengorbankan kehidupanku sendiri.”

Samiroh diam sejenak dan terdengar tangis terisak-isak. Seluruh badannya bergetar dan bagai peluru keluarlah kata-kata dari mulutnya, “Tidak, tidak. Itu tidak akan terjadi! Kau sungguh sangat mulia. Mulai detik ini Aku hanya milikmu seorang.”

“Tapi aku tidak pantas buatmu. Kurasa aku tidak setara denganmu.” Kembali Samiroh berkata dengan suara yg berat.

***

Terakhir, ada kata-kata menarik yang ditulis di cover belakang novel:

Jangan cintai apa yg tak engkau miliki,
tapi cintailah apa yg engkau miliki..

Meski semula apa yg kita miliki tdk menarik dan tdk kita sukai, namun dlm perjalanan waktu kita akan bisa mengubah rasa tdk suka menjadi suka, benci menjadi cinta. Dan keindahan cinta tdk terletak pada kata-kata, tapi lebih kepada mengubah sesuatu yg kita benci menjadi kita cintai. Dan itulah hakikat cinta terbesar!

Dalam proses mencintai antara dua anak manusia, akan dijumpai banyak peristiwa, sedih maupun gembira. Manusia hanya tinggal memilih jalan mana yg akan ditempuh, jalan bahagia atau jalan sengsara.

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

4 responses »

  1. boleh minjem bukunya ga bro?

    Reply
  2. wah bikin penasaran,,yg akhir2 kurang detail ceritanya🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: