RSS Feed

Sayyid Qutb

Sayyid Qutb, atau nama lengkapnya Ibrahim Husain Shadhili Sayyid Qutb lahir pada 9 Oktober 1906 di Misha dekat Asyut, Mesir. Orang lebih banyak mengenalnya sebagai ulama, ideolog, dan tokoh Ikhwanul Muslimin. Banyak karya tulis yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, di antaranya kitab Fii Zhilalil Qur’an yang dinilai sangat monumental. Kitab ini ditulis semasa beliau dipenjara oleh rezim militer Mesir.sayyid qutb

Publik jarang mengenal Sayyid Qutb sebagai seorang sastrawan dan penulis kritik sastra. Padahal, semasa hidupnya -sebelum beliau syahid di tiang gantungan pada 26 Agustus 1988 akibat difitnah oleh rezim yang berkuasa sebagai orang yang akan membunuh presiden Mesir- banyak karya sastra lahir dari pena Sayyid Qutb.

Dalam tradisi kepenulisan Islam bangsa Mesir, dikenal banyak sekali ulama yang merangkap sekaligus sastrawan. Oleh karena itu, karya-karya mereka biasanya memiliki bahasa yang halus, dalam, memikat, dan mengandung pesona. Banyak karya dari ulama Mesir yang menunjukkan ciri khas demikian. Ulama semisal Buya Hamka, jika di Indonesia cukup jarang, di Mesir bahkan banyak jumlahnya. Bisa jadi, ini dimaksudkan untuk memelihara tradisi para pemimpin umat sebelumnya, dimana Imam Syafi’i dikenal ahli menulis puisi. Begitu juga halnya Shalahuddin Al Ayubi, seorang raja, panglima perang, ulama, sekaligus seorang yang mahir menulis karya sastra.

Sebagai penulis kritik sastra, karya Sayyid Qutb antara lain al Taswir al Fanny fi al Qur’an, Musyahadah al Qiyamah fi Qur’an, al Naqd al Adaby Usuluhu wa Manahijuhu dan Naqd Kitab Mustaqbal al Saqafah fi Misr.

Sebagai sastrawan, Sayyid Qutb menulis novel berjudul Tif min al Qarya, Asywak, yang dipercaya pembacanya sebagai autobiografi. Novelnya yang lain yaitu al Atyaf al Arba’ah dan al Madinah al Masurah.

Kalau dikaji, karya-karya itu ditulis sebelum tahun 1951, sebelum beliau -sebagai pendidik yang bekerja di Dept Pendidikan- dikirim sebagai utusan ke Amerika Serikat. Pengalaman menyaksikan kehancuran moral bangsa Amerika Serikat karena terlalu mengandalkan kebebasan hidup, membuat Sayyid Qutb sadar bahwa Islam sungguh merupakan solusi untuk menyelamatkan manusia dan memuliakan martabat kehidupan manusia. Ini yang kemudian menyebabkan Sayyid Qutb bergabung dengan Ikhwanul Muslimin. Resikonya, ia harus berhadapan dengan rezim militer sekuler yang menindas gerakan kritis dan tokoh-tokoh kritis bangsa Mesir. Pengalaman dipenjara tiga kali, dan yang terakhir berujung pada syahidnya menunjukkan bagaimana gigihnya perjuangan agama dan perjuangan kemanusiaan yang dilakukan oleh Sayyid Qutb.

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

2 responses »

  1. minta izin copy gambar yea.
    trima kasih..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: