RSS Feed

Asal Muasal Minangkabau

Asal Muasal #MinangKabau | by : @AnakRantauMng

A_RUdP7CQAA-KAa.jpg largeTiga anak dari Raja Iskandar Zulkarnain (Alexander Agung) dari Makadunia (Macedonia) yaitu Maharajo Alif , Maharajo Japang dan Maharajo Dirajo berlayar bersama, dan saat dalam perjalanan mereka bertengkar sehingga mahkota kerajaan jatuh ke dalam laut. Maharajo Dirajo yang membawa Cati Bilang Pandai -seorang pandai emas- berhasil membuat satu serupa dengan mahkota yang hilang itu. Mahkota itu lalu ia serahkan kepada abang-abangnya, tetapi mereka mengembalikannya kepada Maharajo Dirajo karena ia dianggap yang paling berhak menerima, yaitu karena dianggap telah berhasil menemukannya.

Mereka adik beradik lalu berpisah. Maharajo Alif meneruskan perjalanan ke Barat dan menjadi Raja di Byzantium, sedang Maharajo Japang ke Timur lalu menjadi Raja di China dan Jepang (Jepun), manakala Maharajo Dirajo ke Selatan sedang perahunya terkandas di puncak Gunung Marapi saat Banjir Nabi Nuh melanda.

Begitu banjir surut, dari puncak gunung Merapi yang diyakini sebagai asal alam Minangkabau turunlah rombongan Maharajo Dirajo dan berkampung disekitarnya. Mulanya wujud Teratak lalu berkembang menjadi Dusun lalu jadi Nagari lalu jadilah Koto dan akhirnya menjadi Luhak. Daerah Minangkabau yang asal adalah disekitar Merapi, Singgalang, Tandikat dan Saga. Semuanya terbagi atas 3 Luhak atau Luhak Nan Tigo. Luhak ini membawahi daerah Rantau.  Jadi ada 3 luhak dengan 3 rantau :

  1. Luhak AGAM berpusat di BUKITTINGGI dengan Rantau PASAMAN
  2. Luhak TANAHDATAR berpusat di BATUSANGKAR dengan Rantau SOLOK
  3. Luhak LIMAPULUH KOTA berpusat di PAYA KUMBUH dengan Rantau KAMPAR.

Batas Alam Minangkabau menurut Tambo : “Dari Riak nan Badabua, Siluluak Punai Maif, Sirangkak nan Badangkuang, Buayo Putiah Daguak, Taratak Aie Hitam, Sikilang Aie Bangih , Hingga Durian Ditakuak Rajo.” Ini sesuai penjelasan bahwa selain 3 Luhak dan 3 Rantau diatas yang disebut “Darek” atau “Darat”, Minangkabau mempunyai daerah Rantau luar yaitu Rantau Pesisir Barat dan Rantau Timur dengan wilayah  :

  1. RANTAU PESISIR BARAT (Pasisie Barek): Sikilang Air Bangis, Tiku Pariaman, Padang, Bandar Sepuluh, Air Haji, Inderapura, Kerinci (kini masuk Jambi) dan Muko-muko (Bengkulu).
  2. RANTAU TIMUR : Daerah hilir sungai-sungai besar Rokan, Siak, Tapung, Kampar dan Inderagiri (Kuantan), kesemuanya kini masuk di Riau.

Asal-usulnya menurut SejarawanSenarai kerajaan di Sumatra yang merupakan cikal-bakal Kerajaan Minangkabau mulai zaman Hindu-Budha Abad 7 adalah :

  • KERAJAAN MALAYU (Melayu Tua) terletak di Muara Tembesi (kini masuk wilayah Batanghari, Jambi). Berdiri sekitar Abad 6 – awal 7 M.
  • KERAJAAN SRIWIJAYA TUA trletak d Muara Sabak (kini masuk masuk wilayah Tanjung Jabung, Jambi). Berdiri sktar tengah Abad 7 – awal 8 M.
  • KERAJAAN SRIWIJAYA di Palembang, Sum. Selatan. Akhir abad 7 – 11 M.
  • KESULTANAN KUNTU terletak di Kampar, sekitar Abad 14 M.
  • KERAJAAN MALAYU (Melayu Muda) atau DHARMASRAYA terletak di Muara Jambi, abad 12-14 M.

Tahun 1278 Ekspedisi Pamalayu dari Singasari di Jawa Timur menguasai kerajaan ini dan membawa serta putri dari Raja Malayu untuk dinikahkan dengan Raja Singasari. Hasil perkawinan ini adalah seorang pangeran bernama Adityawarman, yang setelah cukup umur dinobatkan sebagai Raja Malayu. Pusat kerajaan inilah yang kemudian dipindahkan oleh Adityawarman ke Pagaruyung dan menjadi raja pertama sekitar tahun 1347.

PAGARUYUNG (1347-1809)

Adityawarman meninggalkan banyak prasasti, terbanyak bahkan jika dibanding periode Raja-raja Sriwijaya. Ia menyebut dirinya sebagai “Kanakamedinindra” (Penguasa Tanah Emas). Kerajaan Pagaruyung menguasai perdagangan lada/rempah dan emas terutama di Rantau Timur Dan dijual ke daerah luar melalui pesisir barat, dimana para pedagang datang dari Aceh Tamil, Gujerat dan Parsi utk dijual di pasaran dunia. Secara berangsur-angsur kerajaan Pagaruyung mulai mundur kira-kira pada abad 15, sehingga peranan daerah Rantau Pesisir yang berupa kota-kota pelabuhan di pantai barat Sumatra justru semakin berkembang. Pada saat inilah Aceh yang tengah berada pada puncaknya masuk sekitar tahun tahun 1640 disertai masuknya ajaran Islam.

Pada akhir abad 16, Pagaruyung sudah tidak utuh lagi, kekuasaan raja tidak mutlak.Yang Dipertuan Pagaruyung sebagai Raja Alam membahagi kekuasaannya pada 2 Raja yang lain yaitu : Raja Adat yang berkedudukan di Buo; dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus.

Kesatuan tiga raja disebut “Rajo Nan Tigo Selo,” sedangkan yang menjalankan kekuasaan Lembaga eksekutif  disebut “Baca Ampek (Empat) Balai” yang terdiri dari 4 Datuk dengan 1 Datuk penguat yaitu :

1)      Datuk Bandaharo (Menteri Utama & Keuangan) di Sungai Tarab
2)      Tuan Indomo (Menteri Adat) di Suruaso
3)      Tuan Makhdum (Menteri Kerajaan Wilayah Rantau) di Sumanik
4)      Tuan Kadi (Menteri Agama) di Padang Ganting, diperkuat oleh
5)      Tuan Gadang (Menteri Keamanan & Pertahanan) di Batipuh,
Semua berada di Luhak Tanah Datar.

Pada abad 17-18, Siak di Rantau Timur mulai melepaskan diri dan mengembangkan kekuasaannya ke utara hingga ke Rokan, Panai, Bilah, Asahan dan Tamiang. Hal ini dimungkinkan oleh kuatnya kerajaan Siak dalam perdagangan dengan Melaka dan Belanda, disamping mulai merosotnya Aceh sesudah Sultan Iskandar Muda mangkat di tahun 1639. Perluasan daerah rantau kemudian menyeberangi Selat Melaka sehingga jadilah Negeri Sembilan di Semenanjung. Rantau Pesisir Barat yang telah dikuasai Aceh tidak lagi Setia kepada Pagaruyung dimana gerakan pemurnian Islam berpusat di Bonjol kelak akan muncul. Rantau Daerah Timur bagaimanapun masih tetap patuh dan setia. Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung pergi ke rantau-rantau ini untuk mengumpulkan upeti (ufti) 3 kali setahun.

Hal ini berlangsung sampai dengan kebangkitan pemurnian Islam yang memecah Minang menjadi 2, yaitu Kaum Putih/Paderi (Pemurnian Islam); dan Kaum Hitam (Adat). Mereka terlibat pertempuran dalam Perang Paderi. 2 Luhak yaitu Luhak Agam dan Luhak Limapuluh Koto telah tunduk kepada Kaum Putih, tetapi Luhak Tanah Datar bertahan hingga dihancurkan oleh pasukan Paderi dari Tuanku Lelo pada tahun 1809. Munculnya Belanda ke Ranah Minang justru menjadi pemenang atas situasi tadi, setelah Pasukan Paderi yang memenangkan peperangan Kaum Paderi melawan Kaum Adat dihancurkan Belanda.

Bagaimana pun selanjutnya Islam tetap menjadi pedoman Adat Minangkabau, dimana setiap Adat yang tidak sesuai dengan Syarak (Hukum Islam) akan dibuang. Sehingga jadilah pedoman berzaman yang berbunyi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Adat haruslah bersendi atau tunduk kepada Hukum Allah.

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

5 responses »

  1. alam minang cobaaaa, gambarkan keadaan alam di Sumbar
    thanks🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: