RSS Feed

Zaid bin Tsabit r.a

Usianya baru menginjak tiga belas tahun. Badannya kecil, postur tubuh pun kurus kerempeng. Namun, ia sudah sibuk mengurus ummat. Padahal, dalam taraf usia yang seperti itu bahkan ia belum lagi disebut mukallaf. Entah apa yang ada di benaknya, yang pasti ia mempunyai cita-cita mulia terhadap dien ini.

Ketika itu, anak kecil ini mendengar kabar bahwa umat Islam akan berangkat menuju lembah Badar. Saat itu kaum muslimin akan berperang melawan kaum musyrikin. Dengan serta merta dan diiringi rasa peduli dan cinta yang teramat besar, ia berangkat memenuhi panggilan tersebut. Zaid kecil berjalan dengan membawa sebuah pedang yang ukurannya bahkan lebih panjang daripada badannya! Ia pun kemudian bergabung dengan pasukan kaum muslimin.

Dengan rasa antusias dan penuh kesungguhan, anak kecil yang belum mukallaf ini berangkat ke medan jihad. Akal dan pikirannya telah memahami dan mengetahui betul konsep jihad. Berjuang di jalan Allah, memerangi musuh, dan menolong agama-Nya. Ia pun sadar, dalam memenuhi panggilan jihad ini ada resiko yang harus ditanggung. Dan ia siap untuk itu! Ia siap menanggung penderitaan, luka, dan kesulitan guna meninggikan martabat dan derajat umat ini, hingga Islam berjaya dan menjadi pemimpin bagi alam semesta.

Namun untuk meraih cita-citanya tersebut sungguh tidak gampang. Tatkala ia bergerak menuju barisan pasukan kaum muslimin, dirinya harus dihadapkan dengan sebuah kenyataan pahit. Rasulullah saw tidak mengizinkannya ikut berperang. Tubuhnya yang kecil dan usianya yang sangat muda membuat Rasulullah khawatir jika nanti dirinya celaka. Ia pun pulang kembali ke rumahnya dengan perasaan sedih dan berat hati.

Bagi Zaid bin Tsabit ra yang saat itu baru berumur tiga belas tahun, ini adalah sebuah tragedi. Hingga akhirnya, ia tiba di rumah dan menangis di hadapan ibundanya, Nawwar binti Malik ra. Sekuat apapun zaid, setinggi apapun cita-citanya, ia tetaplah seorang anak kecil yang bisa menangis dalam pelukan ibunya.

Sejenak, mari kita renungi kisah ini. Sungguh, apa yang ditangisi oleh Zaid kecil amatlah berbeda dengan apa yang lazimnya ditangisi oleh anak-anak seumurannya zaman sekarang. Di zaman Rasulullah saw dulu, bahkan anak-anak kecil sudah memiliki ambisi untuk berjihad di medan perang. Ikut bersama pasukan kaum muslimin menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi mereka! Di usia yang belum mukallaf bahkan mereka sudah memahami hakikat jihad di jalan Allah ini.

Mari kita lanjutkan kisah Zain bin Tsabit ra yang sedang menangis di pelukan ibunya. Dalam tangisnya, Zaid berkata pada ibunya, “Rasulullah saw melarangku ikut berjihad.”

Sang ibu, dengan arif dan bijak menjawab, “Wahai anakku! Janganlah bersedih. Kamu masih bisa berbuat untuk dien ini. Jika tidak berjihad dengan pedang, kamu masih bisa berjihad dengan pena dan lisan.”

Perhatikan, seorang ibu yang begitu bijak menyadarkan anaknya -dan kita semua- bahwa ruang lingkup perjuangan di jalan Allah amatlah luas. Setiap orang bisa menyalurkan apapun potensinya untuk digunakan di jalan Allah. Jika tak mampu berbuat di satu medan, sesungguhnya masih banyak karya yang bisa dihasilkan pada lini yang lain. Setiap orang akan dimudahkan untuk mencapai tujuannya.

Sang ibu yang cerdas itu berkata kepada anaknya yang memilki semangat membara, “Kamu harus tekun belajar membaca dan menulis -sebuah kegiatan yang jarang dilakukan pada masa itu- serta menghafal surat-surat Al-Qur’an dengan baik! Setelah itu, mari kita berangkat menghadap Rasulullah saw untuk mengetahui, bagaimana cara menggunakan potensi dan kemampuan yang kita miliki untuk berkhidmat kepada Islam dan kaum muslimin.”

Sebuah jawaban yang sangat visioner dan cerdas!

Singkat cerita, setelah perang badar usai mereka berangkat menemui Rasulullah saw. “Wahai Nabi Allah, anak kami ini, Zaid bin Tsabit telah menghafal tujuh belas surat Al-Qur’an. Ia membacanya dengan fasih dan benar sebagaimana diturunkan kepadamu. Di samping itu, ia juga sangat mahir menulis dan membaca. Dengan itu semua, ia ingin senantiasa bersamamu dan selalu mendampingimu.”

Rasulullah saw sama sekali tidak meremehkan kondisinya yang masih muda. Bahkan, beliau justru meminta Zaid yang masih berusia tiga belas tahun untuk melaksanakan suatu tugas yang amat berat. Rasulullah kala itu menyuruh Zaid untuk mempelajari bahasa asing! Dua diantaranya adalah bahasa ibrani dan bahasa suryani. Tugas ini sangat penting, mengingat umat Islam memiliki hubungan diplomasi dengan bangsa-bangsa lain di sekitar jazirah arab kala itu.

Zaid bin Tsabit akhirnya mampu menguasai kedua bahasa tersebut dalam waktu singkat. Rasulullah saw sangat puas terhadap ketekunan Zaid ra. Beliau kemudian memberikan amanah yang jauh lebih besar dan lebih berat daripada sekedar surat-menyurat dan hubungan diplomatik. Rasulullah saw mempercayainya untuk menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an.

Hari-hari pun berlalu, hingga akhirnya Rasulullah saw wafat. Sebagaimana yang kita ketahui, khalifah kemudian melakukan upaya untuk mengumpulkan Al-Qur’an dan Zaid lah yang dipercaya untuk melakukan tugas yang amat mulia ini. Khalifah Abu Bakar ra tidak menemui orang yang lebih baik daripada Zaid bin Tsabit ra untuk menyelesaikan tugas ini. Selain karena Zaid mahir menulis dan membaca, ia juga termasuk salah satu penulis wahyu tatkala Rasul masih hidup. Ia mengetahui persis seluk beluk Al-Qur’an, kapan diturunkan, bagaimana turunnya, apa sebab turunnya, urutan turunnya, hingga tata cara menggabungkannya dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.

Begitulah kisah Zaid bin Tsabit ra yang semestinya menjadi contoh bagi para pemuda di zaman ini. Ia menjalankan tugas pengumpulan Al-Qur’an ketika usianya baru 22 tahun. Jika ia hidup di zaman sekarang, barangkali ia belum bergelar doktor atau profesor. Namun, di pundaknya lah tugas penting ini diletakkan. Sungguh, betapa besar potensi yang dimiliki seorang pemuda!

*disadur dari Risalah ilaa syababil ummah karya Dr. Raghib As-Sirjani

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: