RSS Feed

Hukum Termodinamika : Sebuah Paradoks

Hukum pertama Termodinamika menjelaskan tentang konsep “Kekekalan Energi.”Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi Energi dapat dirubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

Hukum kedua Termodinamika merupakan penjelasan dari hukum pertama. Hal yang menarik adalah bahwa pada hukum kedua secara lebih komprehensif menjelaskan tentang adanya insufisiensi dari perubahan energi. Memang, terdapat banyak sudut pandang tentang ‘apa sebenarnya inti dari hukum kedua ini.’ Saya pribadi, lebih senang menyebutkan bahwa hukum kedua ini menjelaskan tentang “Exergy” dan “Entropi.”

Oke, kali ini memang saya ingin berceloteh tentang exergy. Apa itu exergy? Simpelnya “Exergy is Energy used to work.” Artinya lebih kurang bahwa exergy adalah energi yang termanfaatkan. Seorang dosen pernah dengan cerdas mengkritik penggunaan istilah energi dan exergy. Kalimatnya ketika itu :

Jika energi itu kekal, maka kenapa kita harus hemat energi?

Awalnya banyak yg bingung terhadap pertanyaan ini. Maka, tidak aneh bila kemudian banyak yang menjawab pertanyaan ini dengan logika yang tidak tepat pula. Sekilas, pertanyaan ini terlihat seperti mempertentangkan hukum pertama termodinamika. Ya, pertanyaan ini merupakan paradoks yg hanya bisa dijawab jika kita memahami hukum kedua termodinamika. Intinya, pada kalimat tersebut, yang “kita harus hemat” bukanlah “energi” namun “exergy.” Well, kita sudah terbiasa menyamakan keduanya sih..😀

Lebih jauh tentang paradoks ‘exergy’ dan ‘energi,’ sesungguhnya hal ini juga terjadi pada kebanyakan orang. Banyak yang sering bilang “Saya sebenarnya bisa kok bikin ini, bikin itu..” atau “Saya mestinya bisa ngerjain ini, nyelesain itu..” dan banyak macam versi lainnya. Biasanya ini berupa keluhan setelah tidak berhasil mengerjakan sesuatu atau mengerjakan sesuatu di bawah target. Kata kuncinya disini adalah ‘sebenarnya, seharusnya, mestinya, kudune, dll..’ Frase-frase tersebut mendefinisikan energi yang dimiliki oleh seseorang.

Hal di atas menjadi masalah karena seringkali penilaian dilakukan bukan atas energi yang dimiliki, namun atas exergy yang dipunyai. Energi boleh besar, namun akan lebih baik jika exergy juga besar. Jika “Saya seharusnya bisa begini..” lantas mengapa tidak begini?? kenapa hanya bisa segini?? Nah!

Terlihat kejam, jahat, tidak adil? Memang! Tapi ingatlah,

Produktivitas diukur dari hasil yang dicapai.

Maka hal terpenting bagi kita bukanlah mendefinisikan energi yang dimiliki, namun memaksimalkan exergy yang dikeluarkan. Selamat menikmati hukum termodinamika!

———————————————-

*Sumber inspirasi :

  • Status fb seorang dosen
  • notes seorang senior di kampus

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: