RSS Feed

Seni Berkomunikasi

Kita mungkin pernah mendengar percakapan antara sepasang suami istri seperti berikut ini :

Istri: “Mas, aku mau beli baju motif ini. Bagusnya yang warna pink atau merah ya?” (sambil mematut-matut dua potong baju berwarna pink dan merah di sebuah toko)

Suami: “Merah saja”

Istri: “Aku lebih suka yg pink, mas”

Suami: “Ya sudah, beli yang pink saja. Kalau sudah punya pilihan, mengapa harus bertanya lagi? Buang-buang waktu saja.” (menjawab dengan nada agak tinggi karena jengkel)

Istri: “Ayo pulang saja mas, aku ga jadi beli baju”

(dan suami pun menjadi bingung)

Kata orang, situasi seperti ini muncul karena perbedaan antara Mars dan Venus. Si istri merasa suaminya tidak bisa memahami keinginannya untuk berdiskusi tentang warna yang cocok. Bagi istri, mungkin sebenarnya pilihan warna itu tidak terlalu penting. Baginya perhatian suami terhadap proses pemilihan warna baju itu mungkin lebih penting. Sebaliknya, si suami yang terbiasa berpikir secara logis merasa jengkel karena pertanyaan istrinya hanya membuang-buang waktu saja.

Situasi demikian sering muncul dalam komunikasi antara dua pihak. Meskipun kedua pihak adalah orang-orang yang sangat dekat, tapi ternyata masih mengalami ‘kesenjangan’ seperti di atas. Kejadian serupa bisa terjadi antara suami dan istri, orang tua dan anak, dosen dan mahasiswa, atasan dan bawahan, antar anggota tim kerja, tak terkecuali antara da’i dan mad’u. Sepertinya berkomunikasi itu tidak segampang yang sering kita bayangkan. Berkomunikasi ternyata tidak hanya sekedar berkata-kata mengucapkan apa yang kita pikirkan.

Dalam berkomunikasi, yang penting adalah apakah maksud yang ingin disampaikan itu benar-benar bisa dipahami oleh lawan bicaranya. Di sinilah sering muncul salah paham atau miskomunikasi. Proses memahami pesan sangat dipengaruhi oleh cara berpikir, suasana emosional, situasi lingkungan, sampai dengan sifat-sifat bawaan. Pesan yang sama dapat dipahami secara berbeda jika nilai dari faktor-faktor tersebut berbeda. Dengan demikian efektivitas penyampaian pesan sangat ditentukan oleh kemampuan si pengirim pesan untuk memahami karakteristik si penerima secara utuh. Dalam contoh di atas, ketidakmampuan si istri menangkap gaya suami yang suka dengan kelugasan menimbulkan kejengkelan sang suami, yang akhirnya membuat dirinya sendiri menjadi kecewa.

Lantas, salahkah si istri? tidak juga.
Dalam hubungan antara suami dan istri, tentu saja istri berhak mendapatkan perhatian suami. Relasi yang baik adalah relasi yang mampu memberi dan menerima secara seimbang. Andaikan si suami bisa sedikit mengikuti cara pandang sang istri, pastilah istrinya tidak akan kecewa. Memang, memberi adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan karena kita harus ‘menyerahkan’ sesuatu kepada orang lain. Si suami gagal ‘memberi’ karena dia tidak mau mengalah dan mengikuti cara pandang istrinya.

‘Memberi’ berarti bersedia melihat dari sudut pandang yang lain. ‘Memberi’ berarti melepaskan ego, dan tidak menempatkan diri pada pusat perhatian sembari berharap semua orang melihat kepada kita. Memang sulit, tapi ini adalah syarat terbangunnya komunikasi yang seimbang dan sehat. Mari perhatikan percakapan berikut ini, yang terjadi antara seorang ayah yang otoriter dan keras dengan anaknya yang masih kecil.

Percakapan ini terjadi di meja makan. Si ayah mengajari anaknya agar tidak banyak berbicara saat makan. Ajaran yang baik, tentu saja, tapi komunikasi yang buruk menyebabkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

“Ayah…”, kata si anak tiba-tiba.

Belum selesai mengucapkan kalimatnya, si ayah memotong,”Nak, ingat kata ayah kan, jangan berbicara selama makan.”

“Tapi ayah…”, lanjut si anak.

Sekali lagi, dengan tegas ayahnya bilang,”Stop. Jangan bicara. Selesaikan dulu makanmu.”

Lalu sambil menunduk, si anak melanjutkan makannya sampai selesai.

Setelah selesai makan, ayahnya berkata,”Nah sekarang makanmu sudah selesai. Bicaralah.”

Jawab si anak,”Tidak kok ayah. Aku tadi hanya ingin memberitahu ayah bahwa di nasi yang ayah makan tadi ada ulatnya…”

Ego si ayah dalam berkomunikasi menyebabkan dia kemudian merasa ingin muntah. Ego serupa, bila berlangsung lama, bisa membuat akibat yang lebih fatal, dari mulai kesalahpahaman, hubungan yang tidak harmonis, saling marah, perceraian, sampai memicu tindakan-tindakan kriminal.

Jadi, marilah membangun komunikasi yang baik. Gunakan rasa, rendahkan ego, lihatlah juga dari sudut pandang lawan bicara. Seimbangkan antara memberi dan menerima. Bukankah Rasulullah saw sudah memperingatkan kita agar berpandai-pandai dalam berkomunikasi.

“Mu’adz bin Jabal bertanya pada Rasulullah saw : Ya Nabi Allah, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan ?, beliau bersabda: Ah kamu ini, Bukankah tidak ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya” (HR. Turmudzi)

“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya” (HR Bukhari dan Muslim)

————————-
*dari blog seorang dosen, dengan pengubahan seperlunya🙂

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

2 responses »

  1. Sering di organisasi hal kaya gini kejadian. dan emang, dampaknya fatal😦
    anyway, suka ama contoh yang kedua.. haha😀 kasian si ayah

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: