RSS Feed

Tentang Tawakkal

Alkisah, terdapatlah dua orang suami-istri yang saling mencintai. Masing-masing tidak menemukan ketentraman kecuali bila berada berdampingan. Namun, keduanya mempunyai sifat yang saling berlawanan. Sang suami seorang laki-laki yang tenang, tidak pernah kesal sekalipun dalam kondisi susah. Sementara sang istri sebaliknya, sangat tegas dan mudah kesal sekalipun dalam masalah yang sepele.

Suatu hari mereka berdua mengadakan perjalanan dengan menaiki kapal laut. Mereka sudah berlayar beberapa hari. Suatu waktu angin kencang berhembus disertai hujan. Ombak laut menggila bagaikan gunung. Kondisi kapal sangat genting. Kapal sudah dipenuhi air. Seluruh penumpang pucat ketakutan. Bahkan nakhoda tidak dapat menyembunyikan kecemasannya. Kesempatan untuk selamat hanya mengandalkan kemu’jizatan dari Allah.

Sang istri tidak dapat lagi menahan perasaannya. Ia mulai berteriak-teriak, tidak tahu apa yang harus diperbuat. Ia segera menemui suaminya, dengan harapan sang suami mempunyai ide cemerlang untuk menyelamatkan diri dari kematian yang sedang mengancam. Semua penumpang sudah berada pada puncak ketakutan. Namun anehnya, ia dikejutkan oleh sikap suaminya yang duduk dengan tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kemarahan sang istri membludak. Ia mengecam suaminya sebagai orang yang dingin dan tidak punya kepedulian.

Suaminya melihat kepadanya. Dengan wajah masam dan mata penuh kemarahan ia menghunuskan belati ke arah dada istrinya, dan ia berkata dengan serius disertai suara mengancam: “Apa kamu tidak takut dengan belati ini?”

Istri: Tidak

Suami: Kenapa?

Istri: Karena ia dipegang oleh tangan orang yang aku yakini kecintaannya kepadaku dan aku juga mencintainya.

Suaminya tersenyum sambil berkata: “Demikian juga aku, ombak besar itu dikendalikan oleh tangan yang aku yakin kepada-Nya dan aku mencintai-Nya. Kalau Dia yang Maha Berkuasa atas segala perkara, kenapa harus takut dan cemas?”

قل لن يصيبنا إلا ما كتب الله لنا هو مولانا وعلى الله فليتوكل المؤمنون

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal”. (At-Taubah : 51)

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

One response »

  1. eaaaaaa… so sweet.. *loh

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: