RSS Feed

A Beautiful Mind

A Beautiful Mind Schizophrenia, adalah nama penyakit yang diderita oleh John Nash (Russell Crowe) semenjak duduk di bangku kuliah Universitas Princeton. Penyakit ini membuat John Nash mengalami halusinasi dan kesulitan untuk membedakan mana dunia nyata dan mana yang merupakan halusinasinya.

Film ini sendiri sebenarnya diangkat dari kisah nyata seorang John Nash, seorang matematikawan jenius yang memiliki suatu idealisme tentang ilmu pengetahuan dan sistem pendidikan. Menurutnya, untuk meraih gelar doktor, seorang matematikawan haruslah memiliki ide orisinil untuk bahan risetnya. Pribadinya tergolong unik, dan mungkin amat jarang ditemui di negeri kita ini. Ia selama menempuh pendidikan, lebih memilih belajar secara otodidak. Dalam pandangannya, sistem perkuliahan di kelas hanya akan membuat otak tumpul! Karenanya ia lebih memilih belajar secara otodidak, seperti mengamati pergerakan burung merpati di taman sambil merumuskan algoritmanya; mencoret-coret jendela dengan pola pergerakan wanita mengejar pencopet; dsb.

Kesimpulan sementara saya hingga saat ini adalah : orang ini Freak!πŸ˜€

(Spoiler Alert!πŸ˜€ )Cerita berlanjut hingga akhirnya ia meraih gelar doktor dengan teorinya (hingga saat ini dikenal dengan Teori Kesetimbangan Nash) yang meruntuhkan teori ekonomi Adam Smith. Inspirasi mengenai teori ini ia dapatkan ketika nongkrong bersama rekan-rekannya di sebuah bar. Mereka berlima saat itu tengah “mengintai” lima orang gadis, dimana satu diantara para gadis itu adalah yang paling cantik. Dalam benak John Nash, jika mereka berlima seluruhnya mengincar si cantik, maka mereka akan saling menghalangi satu sama lain hingga akibatnya tak satupun akan mendapat pasangan. Akibatnya, si cantik akan pergi begitupun empat temannya karena keempatnya akan merasa di-nomor dua-kan. Solusi dari John Nash adalah, masing-masing mereka tidak mengincar si cantik sehingga tidak ada yang saling menghalangi dan tidak ada yang merasa di-nomor dua-kan. Well.. no comment untuk yang ini..πŸ™‚

Spoilernya cukup sampai di sini, karena kisahnya terlalu panjang untuk ditulis semua. Yang menarik untuk dinikmati dari film ini adalah bagaimana perjuangan John Nash melawan penyakit yang dideritanya. Ia setiap waktu mengalami halusinasi, terdiri dari tiga orang yang senantiasa “mengganggu” nya. Sialnya, Nash telah terlanjur akrab dengan ketiga orang halusinasinya itu. Ada semacam ikatan batin antara Nash dan para tokoh khayalannya, hingga pada beberapa scene digambarkan Nash tidak tega untuk mengabaikan halusinasinya tersebut.

Satu hal menarik yang bisa saya petik dari kisah John Nash ini adalah tentang “Kekuatan tekad.” Ya, kekuatan tekad-lah yang membuat Nash bisa bertahan hingga menghasilkan disertasi yang “murni” ide orisinil dari dirinya sendiri. Kekuatan tekad lah yang membuat Nash berhasil berjuang melawan halusinasi akibat penyakit schizophrenia yang dideritanya. Dan kekuatan tekad lah yang mengantar John Nash meraih hadiah Nobel pada tahun 1994.

The Only Thing Greater Than the Power of the Mind is the Courage of the Heart

That’s it!πŸ™‚

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

2 responses »

  1. Film yg menarik. Ada bbrp kata2 ilmiah yg Ci gak paham

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: