RSS Feed

One Flew Over the Cuckoo’s Nest

One_Flew_Over_the_Cuckoo's_Nest_posterFilm yang dirilis pada tahun 1975 ini menjadi film kedua dari hanya tiga film hingga saat ini yang berhasil menyabet 5 kategori utama pada penghargaan Oscar (Best Picture, Director, Actor, Actress, Screenwriter adapted/original). Di IMDB sendiri film ini memperoleh rating 8.8! Sebuah capaian luar biasa untuk film bergenre drama.

Adalah Jack Nicholson yang berperan sebagai McMurphy, seorang tahanan akibat tindakan kekerasan yang dilakukannya pada seorang gadis berusia 15 tahun. Daripada harus mendekam di penjara, ia lebih memilih menjadi orang gila. Alhasil, ia dikirim ke sebuah rumah sakit jiwa untuk menjalani rehabilitasi, sekaligus evaluasi perkembangan kejiwaannya.

Satu tokoh lainnya yang bermain sangat bagus pada film ini adalah Louise Fletcher yang memerankan Suster Ratched. Ia sangat sempurna memerankan tokoh antagonis yang tidak jahat (nah lho🙂 ). Karakternya yang sangat lembut, namun begitu dingin membuat aura kejam terpancar dari dalam sosoknya. Selain dua tokoh utama, saya sangat kagum dengan tokoh-tokoh lainnya yang memerankan para pasien rumah sakit jiwa. Seolah mereka tidak sedang berakting, saking alaminya kepolosan dan keluguan tingkah mereka memerankan karakter orang gila.

Keberadaan McMurphy selama di rumah sakit jiwa itulah yang menjadi inti dari cerita ini. Ada yang ganjil dari sistem rehabilitasi para pasien tersebut. Terhadap mereka diberlakukan berbagai aturan ketat, disiplin, dan hal-hal lainnya yang membuat McMurphy sendiri merasa tak ubahnya seperti dalam penjara.

Judul film ini, jika saya sederhanakan dalam bahasa Indonesia akan menjadi ungkapan “Burung dalam Sangkar”. Begitulah kurang lebihnya pesan dari film ini. Pasien rumah sakit jiwa, sekalipun secara mental / psikis mereka terganggu, namun mereka tetaplah manusia. Mustahil rasanya mereka akan sembuh jika selama rehabilitasi justru ditekan secara mental, dan diberlakukan aturan-aturan ketat. Hal ini agaknya yang membuat McMurphy yang sedang berpura-pura gila menjadi pemimpin “revolusi” para pasien tersebut.

Bermacam cara dilakukan McMurphy untuk melawan dinginnya karakter suster Ratched tanpa membuat rahasianya menyamar sebagai orang gila terbongkar. Mulai dari mengajari olahraga para pasien, sebagai pengganti senam yang membosankan; membawa para pasien ke alam bebas untuk pergi memancing ikan; hingga menuntut diizinkannya menonton televisi bagi para pasien.

Di satu sisi, saya sepakat pada apa yang dilakukan oleh McMurphy. Para pasien -sebagian bahkan adalah sukarela karena ingin menjalani terapi kejiwaan, bukan benar-benar gila- diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi. Buktinya, forum curhat pasien saja bahkan membuat pasien semakin tertekan mentalnya. Kehadiran McMurphy lah yang memunculkan kebahagiaan bagi pasien lainnya. Akan tetapi, ide “kebebasan” yang ditawarkan McMurphy juga IMO kebablasan. Masa’ pasien RSJ dibawa mabuk-mabukan dan bermain wanita? Gila!😀

Alhasil, film yang almost perfect menurut saya ini mengajarkan pada kita, bahwa manusia sangat tidak layak untuk dikekang, meskipun benar, kita butuh peraturan dalam hidup. Mengobati kejiwaan bukan dengan memaksa dan menekan mentalnya. Terakhir, pesan final dari film ini adalah bahwa sebuah ide akan selalu abadi dan dapat diwariskan, sekalipun pembawa ide tersebut telah tiada.

Selamat menikmati film gila yang genius ini!😀

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: