RSS Feed

Burung Beo yang Mati

beoSeorang kakek yang cukup tua memelihara seekor burung Beo. Burung Beo tersebut adalah burung yang sangat cerdas. Dalam kurun waktu yang cukup singkat, kakek tersebut berhasil melatih sang Beo mengucapkan beberapa kata. Sang Kakek tak lupa mengajarkan Beo tersebut melafalkan kalimat dzikir seperti “Subhanallah”, “Laa ilaaha illallah”, “Allahu Akbar”, dan sebagainya. Apabila tamu berkunjung dan mengucap “Assalamu’alaykum”, maka beo itu menjawab “Wa alaykumsalam” dengan fasih.

Suatu ketika, burung itu lepas dari sangkarnya. Sang kakek terkejut, dan dengan bantuan cucunya ia berusaha menangkap kembali burung tersebut. Malang baginya, burung tersebut terbang tak terkontrol dan menabrak mobil yang melintas. Ia sekarat, lalu mati.

Sang kakek sedih bukan main. Cucunya berusaha menghibur sang kakek.

“Jangan sedih, kek. Kita masih bisa mencari beo lain yang lebih pandai sebagai gantinya,” ujar sang cucu

“Kakek sedih bukan karena kehilangan burung beo ini.”

“Lalu kenapa?”

“Engkau lihat, ketika burung itu sekarat, ia hanya bersuara ‘Kak, khhhkkk, kaakkk, kekk’ saja. Padahal ia sudah terlatih untuk mengucap kalimat zikir. Sekalipun tak ada kalimat yang sudah kakek ajarkan, diucapkan olehnya saat sekarat. Kakek khawatir, saat berhadapan dengan maut nanti kakek tak sanggup melafalkan syahadat, melainkan hanya ucapan tak karuan.”

Sang cucu terdiam.

“Padahal ketika sakaratul maut nanti, setiap manusia akan diganggu syaitan,” tambah sang kakek

***

Dzikir janganlah sekedar ucapan sekedar pembasah bibir. Jadikanlah setiap lafaz dzikir kita meresap hingga ke dalam hati. Dzikir yang tak hanya berhenti hingga tenggorokan namun hati tetap kering. Dzikir yang membasahi lisan dan melunakkan hati. Dzikir yang melembutkan tutur kata dan memperindah tingkah laku. Dzikir yang menentramkan hati, itulah dzikir orang yang beriman.

“Orang-orang yang beriman, hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah (dzikrullah) hati menjadi tenteram.” [QS Ar-Ra’du : 28]

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: