RSS Feed

Terbang Tinggi

ilustrasi labirin dan laut icarus

ilustrasi labirin dan laut icarus

Alkisah, pada zaman dahulu di Yunani hiduplah seorang lelaki bernama Icarus. Ia mempunyai seorang ayah bernama Dalius. Dalius adalah seorang yang amat ahli menciptakan suatu rancangan.

Suatu ketika Dalius merancang sebuah sayap yang terbuat dari bulu-bulu burung yang ia kumpulkan, lalu diberikan kepada anaknya, Icarus. Untuk merekatkan bulu-bulu pada sayap tersebut, Dalius menggunakan lilin. Setelah terpasang, Dalius berpesan kepada Icarus “Kamu dapat terbang sekarang, anakku. Namun ingatlah, kau tak boleh terbang terlalu dekat ke laut, karena aku khawatir kau akan jatuh ke air dan tenggelam. Kau juga jangan terbang terlalu tinggi. Bila kau terlalu dekat pada matahari, lilin pada sayapmu akan leleh dan bulu-bulu ini akan terlepas.

Pada suatu waktu Dalius ditangkap oleh Raja dan diasingkan di tengah laut. Demi menyelamatkan ayahnya, maka Icarus pun terbang menggunakan sayap ciptaan ayahnya menuju tempat pengasingan Dalius.

Dalam perjalanannya terbang, ternyata Icarus naik menukik dan terbang semakin tinggi. Tiba-tiba ia menyadari bahwa ia agak sulit terbang. Ternyata benar, lilin pada sayapnya meleleh dan beberapa bulu telah terlepas. Ia terbang merendah, namun terlambat, bulu sayapnya makin banyak yang lepas dan tidak dapat lagi menopang berat tubuhnya. Icarus jatuh ke laut dan tenggelam.

***

Legenda tersebut masih diceritakan secara turun temurun, bahkan terdapat sebuah tempat yang diberi nama laut Icarus (Icarea). Mitos yang selalu disampaikan secara turun temurun tersebut adalah bahwa, janganlah kamu terbang terlalu tinggi karena berbahaya dan kalau jatuh bisa mati. Lebih baik cari amannya saja. Hal tersebut mempengaruhi pola pikir untuk membuat kita takut melakukan hal-hal besar.

Padahal sebenarnya terbang rendah pun sama bahayanya dibanding terbang tinggi karena ada ombak yang bisa menghantamnya, bahkan terbang rendah lebih berbahaya dibandingkan terbang tinggi, karena kita merasa nyaman atau merasa aman sehingga bisa melenakan kita.

Pesan moral sebenarnya adalah sekalipun kita melakukan hal yang biasa-biasa saja resiko bahayanya akan sama jika dibandingkan kita melakukan hal-hal yang berani atau besar. Bahkan adakalanya lebih berbahaya kita melakukan hal-hal yang dianggap biasa, karena kita merasa aman dan nyaman sehingga membuat kita terlena dan ceroboh.

Contoh lain, terkadang kita takut naik pesawat, bagaimana kalau nanti jatuh dan sebagainya. Padahal justru yang sering celaka atau musibah itu perjalanan dari rumah ke bandara dibanding yang dari bandara ke bandara. Atau contoh lain adalah seringnya kecelakaan itu terjadi di jalanan dibandingkan aktivitas ekstrim seperti naik gunung, terbang layang atau lainnya, padahal kegiatan ekstrim itu kita anggap jauh lebih berbahaya dibanding kegiatan di jalanan. Mengapa? Karena yang aman-aman saja itu membuat kita merasa aman sehingga terlena atau ceroboh.

Bukan berarti sebaiknya kita melupakan rasa takut -karena pada dasarnya kita adalah manusia yang rapuh-, tapi justru karena kita memiliki rasa takut maka kita bisa melakukan hal-hal berani (bahkan ekstrim) dengan lebih terkontrol dan penuh kehati-hatian.

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: