RSS Feed

Refleksi Anak Rohis

Suatu ketika di suatu SMA, diceritakanlah seorang laki-laki yang sedang menjalin hubungan pacaran dengan seorang wanita…

Lelaki ini bernama M, dan memiliki seorang sahabat bernama N. Suatu ketika, si N ini menasihati si M untuk tidak pacaran karena menurutnya pada saat itu, pacaran adalah hal yang diharamkan agama. Si N ini adalah anggota ROHIS di SMA

Beberapa tahun kemudian, si laki-laki putus dari pacarnya dan mengetahui bahwa sahabatnya dulu si N sudah memiliki pacar karena memasang Profile Picture berdua dengan pacarnya. Si laki-laki bertanya pada sahabatnya, “kok kamu pacaran, bukankah kamu dulu tidak mau pacaran?”.

Si N menjawab, “Ah itu kan dulu, sekarang mah ga apa-apa”.

—————————–

Cuplikan di atas adalah status fb salah seorang teman saya di kampus. Saya menganggap, ini adalah sebuah bentuk curhatan teman saya ini terhadap fenomena “Anak Rohis” yang ia amati. Sebagai catatan, teman saya ini bukanlah mahasiswa berlatar belakang anak rohis ataupun alumni rohis. Apakah ia adalah si M dalam cerita, saya pribadi tidak begitu mengetahuinya.

Apa yg ingin saya sampaikan terkait hal ini adalah, bahwa ternyata status “Anak Rohis” mendapatkan perhatian khusus di mata orang banyak. Okelah, kita persempit lingkupnya menjadi ruang sekolah. Ya, seluruh teman-teman, guru, pedagang di kantin, hingga penjaga sekolah akan memperhatikan kita. Tak hanya memperhatikan, bahkan tidak jarang di antara mereka yang memberikan penilaian terhadap kita. Oh, anak rohis itu rajin ngaji, rajin ke masjid, nggak pacaran, nggak merokok, dsb

Inilah beban besar yang dipikul seorang anak rohis. Maka seharusnya ini menjadi bahan muhasabah bagi kita. Sekuat apa kita bisa istiqomah di jalan dakwah ini. Sudah banyak memang, contoh “alumni rohis” -entah apa alasannya- menjadi seperti si N pada cerita di atas, dalam berbagai kasus. Salah satunya, ya kasus pacaran ini.

Semoga ini menjadi renungan bagi seluruh anak Rohis. Tidak perlu melihat pada orang lain, tapi lihatlah pada diri sendiri. Jangan dulu perhatikan hal yang ribet, tapi perhatikanlah hal yang sederhana. Jika dulu kita rajin dhuha, misalnya, adakah kita masih rajin sekarang? Jika dahulu kita rajin ngaji, masihkah kita seperti yang dulu? #semacamsebuahlagu #eh😛

Wallahu a’lam bis shawab

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: