RSS Feed

Tiga Tugas Da’i

Ahad lalu (16/6/2013) saya mendapat tugas untuk menjadi salah satu pemantik diskusi pada Nadwah (Seminar) yang diselenggarakan di Islamic Center, Seturan, Jogjakarta. Tema yang ditugaskan oleh panitia kepada saya yaitu “Tinjauan Risalah Dakwatuna terkait Kategorisasi Objek Dakwah dalam Konteks Kekinian.”

Topik ini sangat berat bagi saya, mengingat saya harus mendalami konsep pemikiran Ikhwanul Muslimin yang digariskan oleh Hasan Al-Banna. Terutama sekali yang berkaitan dengan “Risalah Dakwatuna”.

Saat berlangsungnya diskusi, ada satu pertanyaan menarik yang diajukan oleh peserta kepada saya :

“Apa tujuannya seorang da’i menetapkan kategorisasi semacam ini pada objek dakwah?”

Sesungguhnya dalam menjawab pertanyaan ini, saya pribadi tidak begitu memahami latar belakang seorang Al-Banna dalam membuat kategorisasi objek dakwah seperti demikian. Hanya saja, saya menekankan kepada peserta bahwa jawaban yang saya berikan terhadap pertanyaan ini adalah berupa pandangan pribadi saya.

Ada dua kaidah yang saya gabungkan dalam persoalan ini :

Pertama,Wa maa arsalnaa min rasuulin illa bi lisaani qaumihii liyubayyina lahum.” Mengutip QS Ibrahim ayat 4. Ayat ini menerangkan bahwa setiap Rasul diutus dengan bahasa kaumnya. Inilah yang harus diteladani oleh setiap da’i yang mengikuti jejak risalah para Rasul, bahwa dalam dakwah, mesti menggunakan bahasa yang mudah difahami oleh objek dakwahnya (mad’u).

Maka, kategorisasi objek dakwah yang ditulis oleh asy-Syahid Hasan al-Banna masih sangat mungkin untuk dikembangkan lebih lanjut untuk para da’i. Terutama sekali dengan menggunakan konsep ilmu komunikasi dan psikologi manusia. Hal ini tentu akan lebih memudahkan para da’i dalam menentukan “bahasa” mereka dalam berdakwah.

Kedua, Nahnu Du’at, Lasna Qudhaat.” Ungkapan ini pertama kali diucapkan oleh Hassan al-Hudaybi, mursyid ‘am kedua al-Ikhwan al-Muslimun setelah Hasan al-Banna. Terkait kategorisasi objek dakwah, saya hanya menyampaikan bahwa, sesungguhnya kategorisasi tersebut bukanlah bermaksud pengkastaan. Ia sama sekali tidak bertujuan untuk menghakimi, atau menggolongkan objek dakwah yang berujung pada sikap mengutamakan salah satu golongan mad’u dan menyepelekan golongan lainnya. Sama sekali tidak!

Nahnu Du’at, Lasna Qudhaat. -Hassan al-Hudaybi-

Ungkapan ini diperkuat oleh Syaikh Umar Tilmisani, mursyid ‘am ketiga al-Ikhwan al-Muslimun, yakni “Nahnu Du’at qabla Kulli Syai in.” Kita adalah da’i sebelum menjadi apapun.

Dari dua kaidah ini, saya menarik kesimpulan bahwa seorang da’i (aktivis dakwah) hanya memiliki tiga tugas saja terhadap para mad’u : Menyeru, Menyampaikan, dan Berdakwah!

Tiga hal yang sesungguhnya hanya memiliki satu makna.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” [QS An-Nahl : 125]

Wallahu a’lamu bish shawab

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: