RSS Feed

Tiga Hal yang Membinasakan

“Ada tiga perkara yang membinasakan : kikir yang ditaati; hawa nafsu yang diikuti; dan membangga-banggakan diri sendiri.” (HR. Thabrani)

Kikir yang Ditaati

Kepemilikan harta seharusnya menjadi wasilah dalam meningkatkan ibadah kita kepada-Nya. Namun, banyak di antara manusia yang dititipi kekayaan, malah menjadi kikir. Tidak sedikit yang tergelincir melakukan kemaksiatan disebabkan karena hartanya.

Kikir atau bakhil adalah sifat tercela yang mesti dibuang jauh-jauh oleh setiap Muslim. Sifat kikir ini menjadi sifat pertama yang harus dituruti karena ia akan membawa dampak yang sangat besar. Kikir adalah perumpamaan yang diberikan Allah SWT kepada manusia yang memiliki harta tetapi tidak digunakan untuk kepentingan ibadah kepada-Nya. Harta yang dimilikinya merasa hasil jerih payah, kerja keras, dan kecerdasan dirinya. Sehingga yang bersangkutan tidak rela jika harta itu digunakan untuk kepentingan di jalan Allah.

Ibnu Taimiyyah mengemukakan, kekikiran dan kebakhilan adalah penyakit. Orang bakhil senantiasa menahan dirinya untuk menginfakkan hartanya, sedangkan orang pendengki membenci kenikmatan yang dikaruniakan Allah kepada orang lain. Dengan demikian, lahirnya sifat kikir, melakukan kemaksiatan, dan bakhil merupakan bagian dari penyakit hati yang harus dihindari.

“Hati-hatilah kamu terhadap sifat kikir, karena kikir telah merusak orang-orang sebelum kalian. Mereka memutuskan silaturahmi, berbuat bakhil dan berbuat maksiat, semuanya disebabkan oleh penyakit kikir ini”( HR. Ahmad).

Hawa Nafsu yang Diikuti

Hawa nafsu merupakan keinginan yang muncul dari dalam hati setiap manusia, Memperturuti hawa nafsu hanya akan membawa manusia kepada kerusakan. Hawa nafsu merupakan perkara yang tidak akan ada habis-habisnya. Andaikan manusia diberi harta sebesar gunung, maka ia pasti akan meminta yang kedua. Andaikan diberikan yang kedua, maka ia pasti akan meminta yang ketiga. Begitu seterusnya.

Oleh karena itu keinginan yang terus-terus dituruti akan menyebabkan kita termasuk orang-orang yang rugi di dunia, terlebih lagi di akhirat. Islam mengajarkan kita untuk dapat mengendalikan hawa nafsu dan beruntunglah orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya, dan Allah menjanjikan orang yang takut kepada Allah dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya bahwa disediakan syurga yang menjadi tempat tinggalnya di akhirat kelak.

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”(QS. An-Naazi’aat : 40-41)

Membangga-banggakan diri sendiri

Membanggakan diri sendiri, disebut dengan ujub. Ia adalah salah satu penyakit hati yang berbahaya, karena bisa saja menyerang orang yang soleh sekalipun. Ada orang yang bangga dengan fisiknya, ada yang bangga dengan hartanya, ada yang bangga dengan kecerdasannya, bahkan ada yang bangga dengan ibadahnya.

Orang yang memiliki sifat ujub ini akan memandang rendah orang lain. Merasa dirinya lebih hebat, lebih pintar, lebih kaya, bahkan lebih soleh dibanding orang lain. Hal ini akan menyebabkan hatinya tertutup dari kebenaran. Sufyan Ats-Tsauri meringkas makna ‘ujub sebagai berikut: “Yaitu perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya itu dan boleh jadi saudaranya itu lebih wara’ dari perkara haram dan lebih suci jiwanya ketimbang dirinya”.

Maka dari sifat ujub ini, akan lahir berbagai sifat tercela lainnya. Sombong, dengki, dan iri hati adalah penyakit bawaan dari ujub ini. Imam Syafi’i mengatakan, barang siapa yang berlebihan mengangkat (membanggakan) dirinya sendiri maka Allah akan menjatuhkan martabatnya.

“Orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, dengan santai dapat diusirnya hanya dengan mengibaskan tangan. Adapun seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah kaki gunung yang siap menimpanya.” (HR. Al-Bukhari)

Semoga kita terhindar dari tiga sifat yang membinasakan ini, Aamiin..

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: