RSS Feed

Hujan

hujan

Dalam bahasa arab, hujan ada yang disebut Ghoits, ada pula yang disebut Mathr dan terkadang disebut Maa’ (air). Ghoits biasa digunakan untuk menyebutkan hujan yang tidak terlalu lebat, tidak rintik, dan mendatangkan manfaat. Sedangkan Mathr biasa digunakan untuk hujan yang mendatangkan bencana. Dalam QS Asy-Syu’ara 173, kata Mathr digunakan untuk menyebutkan hujan batu yang ditimpakan pada kaum Nabi Luth as yang durhaka.

Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.

Dalam sebuah hadits yang cukup panjang, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dengan sanad dari Abu Musa ra, Rasulullah saw bersabda :

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah. Maka ada tanah naqiyah, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Diantaranya juga ada tanah yang ajadib, maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Dan diantaranya ada pula tanah qi’an yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ada tiga jenis tanah dalam hadits di atas :

  • Naqiyah
    Tanah jenis ini adalah tanah yang paling baik. Ia mampu menyerap air, menampung air dalam rentang waktu tertentu, hingga mampu menumbuhkan tanaman yang bermanfaat di atasnya. Inilah sebaik-baik tanah dengan kebermanfaatan yang sangat banyak terhadap siapapun yang ingin mengambil manfaat darinya.
  • AjadibTanah jenis ini cukup baik, namun tidak sebaik Naqiyah. Tanah Ajadib hanya mampu menampung air dan memberi minum bagi makhluk hidup di sekitarnya. Akan tetapi, tanah ini tidak mampu menumbuhkan tanaman yang menghasilkan buah dan mendatangkan manfaat yang lebih besar lagi.
  • Qi’an
    Inilah jenis tanah yang buruk. Bahkan untuk menampung air saja ia tak mampu, apatah lagi untuk menumbuhkan tanaman dan mendatangkan manfaat lainnya.

Demikianlah, sesungguhnya ilmu dan hidayah adalah ibarat air. Kita sebagai manusia, adalah tanah yang akan menerima hujan tersebut. Maka sejauh mana kita akan mampu mendatangkan manfaat bagi ummat, tergantung kemauan dan kemampuan kita sendiri dalam menampung hujan ilmu itu.

Ada manusia yang seperti tanah qi’an, tak sanggup menampung ilmu apalagi mendatangkan manfaat bagi yang lainnya. Ada pula manusia yang seperti tanah ajadib, ialah sang gudang ilmu namun tak mampu mendatangkan manfaat dan kebaikan yang maksimal. Ia hanya terasa manfaatnya saat orang lain mendatanginya, layaknya sumur yang baru bermanfaat saat digali kedalamannya. Dan sebagian lagi ada yang benar-benar menjadi tanah naqiyah, mampu menampung ilmu bahkan mendatangkan manfaat yang begitu besar bagi makhluk di sekelilingnya.

Semoga kita menjadi manusia yang senantiasa menebar manfaat bagi ummat ini.

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: