RSS Feed

Cara Berpikir

anak-anak di relAndaikan ada dua kelompok anak-anak bermain dekat pembelokan rel kereta api. Salah satu jalurnya masih berfungsi, dan yang satunya lagi sudah tidak digunakan. Pada bagian yang sudah tidak digunakan, hanya ada satu orang anak yang bermain di sana. Sedangkan sejumlah anak-anak lainnya bermain pada jalur yang masih aktif. Ketika itu, Anda berdiri tepat di mana hanya Anda yang bisa memindahkan jalur perjalanan kereta api.

Pada saat itu Anda tiba-tiba melihat ada kereta api yang datang, sedangkan anak-anak masih asyik bermain di atas rel. Sepertinya mereka tidak menyadari kedatangan kereta yang cukup kencang. Anda tidak punya kesempatan kecuali hanya beberapa detik.

Apakah tindakan yang akan Anda ambil saat itu? Ke arah mana kira-kira Anda akan mengarahkan jalannya kereta api?

Kalau Anda biarkan kereta api berjalan apa adanya, besar kemungkinan akan menabrak sekelompok anak-anak. Jika Anda mengubah arahnya ke arah rel yang sudah tidak difungsikan, maka kereta api akan menabrak satu orang anak saja.

Yang manakah di antara dua pilihan itu yang akan Anda ambil?

***

Mari kita coba bahas pilihan-pilihan ini:

Sebagian di antara kita barangkali akan memandang; mengorbankan satu orang anak demi menyelamatkan sekelompok anak-anak. Inilah perkiraan minimal yang akan diambil dari sudut perasaan.

Apakah Anda setuju dengan pilihan itu? Apakah itu merupakan pilihan yang tepat?

Apakah kita ada yang berpikiran, kalau anak yang bermain di rel kereta api yang sudah tidak digunakan, sengaja bermain di sana dengan tujuan menghindarkan diri dari bahaya kereta api? Oleh karena itu, apakah dia pantas dikorbankan demi menghindarkan kematian bagi sekelompok anak-anak yang lain, yang mereka tidak peduli dengan keselamatan dan tetap bermain di rel kereta api yang aktif berfungsi?

Beginilah barangkali cara pikir yang menguasai kebanyakan masyarakat kita setiap hari dalam bekerja, bahkan sampai kepada level pengambilan-pengambilan keputusan besar. Mengorbankan kepentingan minoritas demi kepentingan mayoritas tanpa mempedulikan hakikat keputusan bagi kelompok mayoritas. Sekalipun sebenarnya mayoritas ini pada posisi kebodohan dan bukan pada pihak yang benar. Sementara yang minoritas dalam pihak yang benar dan berhak.

Dari hal ini kita bisa memutuskan bahwa tindakan yang tepat adalah membiarkan kereta api berjalan pada posisi apa adanya, tanpa membelokkan ke rel yang sudah tidak berfungsi sekalipun akan menimbulkan banyak korban.

Pilihan itu ada beberapa sebab:

  1. Anak-anak yang sedang bermain di rel kereta api yang masih berfungsi akan tahu kedatangan kereta api, dan mereka akan segera kabur ketika mendengar suara kereta api.
  2. Andaikan arah perjalanan kereta api betul-betul dibelokkan, maka satu orang anak yang berada di rel yang tidak aktif, bisa dipastikan akan tewas. Karena dia tidak akan bergerak dari tempatnya ketika mendengar suara kereta api. Sebab dia yakin kalau kereta api tidak akan berjalan di jalur yang dia pakai untuk bermain sebagaimana biasanya.
  3. Lebih dari itu, boleh jadi rel kereta api yang tidak berfungsi ditinggalkan karena sudah tidak layak digunakan dan tidak aman untuk perjalanan. Sehingga perubahan jalan kereta api ke arah ini bukan saja akan membinasakan satu orang anak, bahkan mungkin akan mengakibatkan celakanya penumpang kereta api. Niat semula ingin menyelamatkan nyawa sekelompok anak-anak, malah berubah persoalannya menjadi kematian ratusan dari penumpang, di samping pasti tewasnya satu orang anak.

Bersamaan dengan itu kita tahu bahwa kehidupan kita ini penuh dengan pilihan-pilihan yang susah. Yang mewajibkan kita untuk mengambilnya. Akan tetapi kadang-kadang kita tidak menyadari bahwa keputusan yang tergesa-gesa biasanya tidak benar.

“Setiap yang benar belum tentu tersebar luas, dan setiap yang tersebar luas itu belum tentu benar”.

“Dan jika kamu mematuhi kebanyak orang yang ada di bumi, mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah”. (Al An’am: 116)

“Katakanlah: Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu…” (Al Maidah: 100)

About Hajid Al Mahdy

Hajid Al Mahdy, sebuah nama pena. Seorang Muslim yang berdarah Minang, terlahir pada tahun 1992. Memiliki golongan darah AB. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: